Padukuhan yang tumbuh dari sawah dan sejarah lisan Kyai Cager, kini berkembang lewat pertanian, peternakan, seni budaya, dan pariwisata edukatif di kawasan Anggrek Mukti dan Lumbung Mataraman.
Perjalanan panjang sebuah padukuhan di Kalurahan Tamanmartani, dari cerita lisan hingga wujudnya hari ini.
Padukuhan Cageran berada di Kalurahan Tamanmartani, Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman. Menurut penuturan masyarakat setempat, keberadaannya diperkirakan mulai berkembang setelah masa kemerdekaan Indonesia, dengan Dukuh pertama diperkirakan mulai menjabat sekitar tahun 1945.
Nama “Cageran” dipercaya berkaitan dengan Kyai Cager, tokoh yang makamnya diyakini berada di sekitar kawasan Lumbung Mataraman. Cerita ini merupakan sejarah lisan yang diwariskan turun-temurun dan belum didukung catatan tertulis, namun tetap hidup sebagai bagian dari identitas Cageran.
Sebelum Kalurahan Tamanmartani terbentuk, wilayah sekitarnya terbagi menjadi empat kelurahan: Bogem, Tamanan, Pucung Sari, dan Tegalrejo. Keempatnya bergabung pada tahun 1949. Sekitar tahun 1985, pembagian wilayah RT dan RW mulai dibentuk untuk mendukung kehidupan masyarakat di tingkat lingkungan.
Kehidupan masyarakat Cageran dahulu banyak bergantung pada pertanian padi dan tembakau; seiring turunnya harga tembakau, sebagian petani beralih menanam jagung. Kandang sapi dan kerbau masih banyak dijumpai di sekitar permukiman, dan sebagian jalan kampung masih berupa jalan tanah hingga pembangunan mulai dilakukan pada sekitar 1980–1990-an, termasuk melalui swadaya masyarakat.
Pertanian tetap dipertahankan dan berkembang melalui berbagai kelompok dan kawasan, sementara potensi peternakan dan pariwisata mulai dikembangkan sebagai bagian dari wajah baru Padukuhan Cageran.
Berkembang melalui kawasan Anggrek Mukti dan Lumbung Mataraman, tempat pertanian, peternakan, dan pemberdayaan masyarakat berjalan berdampingan.
Kawasan pertanian seluas sekitar 21 hektare dengan komoditas utama padi dan jagung. Luas lahan tiap komoditas menyesuaikan pilihan petani pada setiap masa tanam. Di luar lahan pertanian, kawasan ini juga memiliki kegiatan peternakan.
Memiliki luas sekitar 5 hektare di atas tanah kas kalurahan, dengan identitas dan pengelolaan tersendiri. Kawasan ini terbagi menjadi tiga bagian utama.

Fokus budidaya padi. Pupuk dari kotoran sapi, pestisida dibuat mandiri. Menggunakan tanah kas kalurahan dengan biaya sewa.

Dibentuk Agustus 2025. Menanam kangkung, cabai, dan kacang panjang secara semi-organik, tanpa biaya sewa lahan.
Sekitar 25 ekor sapi, mendukung ketersediaan pupuk organik bagi kawasan pertanian di sekitarnya.
Padukuhan Cageran menawarkan wisata edukasi, pertanian, seni budaya, dan rekreasi melalui Cageran Edupark serta potensi wisata lainnya, termasuk Pendopo Jemparingan.
Mengenal kawasan Lumbung Mataraman, memperoleh edukasi pertanian, berkunjung ke lokasi, berfoto, dan mencoba praktik bertani.
Mengenal proses pembuatan batik dan mencoba membatik — mulai dari menggambar motif, mencanting, mewarnai, hingga ngelorot. Hasil batik bisa dibawa pulang.
Pendopo Jemparingan menjadi bagian dari potensi wisata budaya Padukuhan Cageran di luar kawasan Cageran Edupark. Informasi kegiatan dan fasilitas dapat ditanyakan melalui kontak yang tersedia.
Menikmati rekreasi air dan suasana lingkungan Cageran. Detail fasilitas dan paket masih menunggu informasi lanjutan.
Kenali Padukuhan Cageran lebih dekat melalui infografis dan video dokumentasi.
Klik infografis untuk memperbesar. Klik video untuk menonton di YouTube.
Tonton di YouTube
Ikuti informasi Padukuhan Cageran melalui Instagram dan temukan lokasinya melalui Google Maps.
Padukuhan Cageran, Kalurahan Tamanmartani, Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.